Selasa, 27 November 2012

Proposal PKL Proses Pengolahan Kelapa Sawit



PROPOSAL PRAKTIK  KERJA LAPANG


PASCA PANEN DAN PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT
PT. SAWIT SUMBERMAS SARANA
DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT



Diajukan oleh :
Nama          : HENDRIYANSYAH
NIM           : 09542010041



JULI 2012
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA
PANGKALAN BUN
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANG


NAMA                                            : HENDRIYANSYAH
NIM                                                 : 09542010041
PROGRAM STUDI                        : AGRIBISNIS
JUDUL                                            : PASCA PANEN DAN PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT



Mengetahui
Ketua Program Studi


Ir.LUKMANSYAH    
NIDN: 1120116101
Menyetujui
Dosen Pembimbing


Ir.LUKMANSYAH    
NIDN: 1120116101



DAFTAR ISI
Halaman Judul.........................................................................................          i
Halaman Pengesahan...............................................................................          ii
Daftar Isi ................................................................................................          iii
Daftar Tabel............................................................................................          iv
BAB I      PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang................................................................          1
1.2     Perumusan masalah..........................................................          2
1.3     Tujuan dan Manfaat........................................................          2
BAB II    TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Pasca Panen Dan Proses Pengolahan Kelapa Sawit........          4
BAB III   METODE PRAKTIK KERJA LAPANG
3.1     Waktu dan Tempat .........................................................          10
3.2     Teknik Pengumpulan Data .............................................          10
3.3     Diagram Alir Kerja Lapang ............................................          11
Daftar Pustaka ........................................................................................          12


DAFTAR TABEL
Tabel 1.....................................................................................................          5

BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang 
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Komoditas  perkebunan kelapa sawit  menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.
Pengolahan Kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan kebehasilan usaha perkebunan kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti sawit, sabut, cangkang dan tandan kosong. Pabrik kelapa sawit (PKS) dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi crude palm oil (CPO) dan inti sawit dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. PKS tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah (TBS) yang diolah dalam pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan dalam pengolahannya, sehingga kualitas CPO yang dihasilkan tidak semata-mata tergantung dari TBS yang masuk ke dalam pabrik.
Pada prinsipnya proses pengolahan kelapa sawit adalah proses ekstraksi CPO secara mekanis dari tandan buah segar kelapa sawit (TBS) yang diikuti dengan proses pemurnian. Secara keseluruhan proses tersebut terdiri dari beberapa tahap proses yang berjalan secara sinambung dan terkait satu sama lain. Kegagalan pada satu tahap proses akan berpengaruh langsung pada proses berikutnya. Oleh karena itu setiap tahap proses harus dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan norma-norma yang ada.
PT. Sawit SumberMas Sarana merupakan perkebunan kelapa sawit yang berada di desa Sulung, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Perusahaan ini memiliki  luas area 16.984 hektar yang ditanami sawit. 
1.2     Perumusan masalah      
1.2.1        Bagaimana penanganan pasca panen kelapa sawit ?
1.2.2        Apa saja tahapan-tahapan pengolahan kelapa sawit mejadi bahan mentah ( CPO ) ?
1.2.3        Apa saja perlakuan mekanis, fisik, dan kimia pada pengolahan kelapa sawit ?
1.3     Tujuan dan Manfaat     
1.3.1        Praktik Kerja Lapang ini bertujuan :
1.      Untuk mengetahui penanganan pasca penen kelapa sawit langsung dilapangan.
2.      Untuk mengetahui proses pengolahan kelapa sawit secara langsung di lapangan, serta
3.      Untuk mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengolahan.


1.3.2        Manfaat praktik kerja lapang
Melalui kegiatan ini akan memberikan manfaat terhadap peningkatan aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan sikap dan dapat melatih kepekaan mengindetifikasi permasalahan dan mencari alternatif solusi melalui pendekatan disiplin ilmu guna meningkatkan kemampuan intelektualnya. Mengetahui secara langsung tahapan-tahapan pasca panen serta proses pengolahan kelapa sawit di lapangan.
Selain itu, manfaat praktik kerja lapang juga untuk  penyelarasan antara status pencapaian pembelajaran di kampus dengan pengetahuan dilapangan. Mahasiswa memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja yang praktis yaitu secara langsung dapat menjumpai, merumuskan serta memecahakan masalah yang ada dalam kegiatan di bidang pertanian. Memperoleh pengalaman dengan mengenali kegiatan-kegiatan di lapangan kerja yang ada di bidang pertanian secara luas. Serta meningkatakan hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi swasta, perusahaan dan masyarakat,sehingga dapat meningkatkan mutu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Pasca Panen Dan Proses Pengolahan Kelapa Sawit
A. Pasca Panen
Pengolahan buah Kelapa Sawit di awali dengan proses pemanenan Buah Kelapa Sawit. Untuk memperoleh Hasil produksi dengan kualitas yang baik serta dengan Rendemen minyak yang tinggi, Pemanenan dilakukan berdasarkan Kriteria Panen (tandan matang panen )  yaitu dapat dilihat dari jumlah berondolan yang telah jatuh ditanah sedikitnya ada 5 -10 buah yang lepas/jatuh dari tandan.
Cara Pemanenan Kelapa Sawit harus dilakukan dengan baik sesuai dengan standar yang telah ditentukan, hal ini bertujuan agar pohon yang telah dipanen tidak terganggu produktifitasnya atau bahkan lebih meningkat dibandingkan sebelumnya. Proses pemanenan diawali dengan pemotongan pelepah daun yang menyangga buah, hal ini bertujuan agar memudahkan dalam proses penurunan buah. Selanjutnya pelepah tersebut disusun rapi ditengah gawangan dan dipotong menjadi dua bagian, Perlakuan ini dapat meningkatkan unsur hara yang dibutuhkan Tanaman sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi buah. Buah yang telah dipanen dilakukan pemotongan tandan buah dekat pangkal, hal ini dilakukan untuk mengurangi beban timbangan Kelapa Sawit. Berondolan yang jatuh dikumpulkan dalam karung dan tandan buah segaar (TBS) selanjutnya di angkut menuju tempat pengumpulan hasil (TPH) untuk selanjutnya ditimbang dan diangkut menuju pabrik pengolahan Kelapa Sawit.


Tabel 1 Fase kematangan Buah Kelapa Sawit
No
Fase buah
Fraksi buah
Jumlah berondolan yang jatuh
Tingkat kematangan
1
Mentah
00
Tdk ada tandan buah yg berwarna hijau atau hitam
Sangat mentah
0
1 %-12,5 % buah luar atau 0-1 berondolan/kg tandan membrondol
Mentah
2
Matang
1
12,5-25%  buah luar atau 2 berondolan/kg tandan 25 % dari buah luar membrondol

Kurang matang
2
25-50 % buah luar membrondol
Matang
3
50-75 % buah luar membrondol
Matang
3
Lewat
4
75-100% buah luar membrondol
Lewat matang (ranum)
5
100 % buah luar membrondol dan sebagian berbau busuk
Lewat matang (busuk)
Sumber: Pengamatan Para Pakar
Pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) menuju pabrik pengolahan kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan alat transportasi berupa Truk atau Traktor. Sebelum masuk kedalam Loading Ramp, TBS ditimbang terlebih dahulu. Penimbangan bertujuan untuk mengetahui berat muatan (TBS) yang diangkut sehingga memudahkan dalam perhitungan atau pembayaran hasil panen serta memudahkan untuk proses pengolahan selanjutnya. TBS yang telah ditimbang kemudian di periksa atau disortir terlebih dahulu tingkat kematangan buah menurut fraksi fraksinya. Fraksi dengan kualitas yang diinginkan adalah fraksi 2 dan 3 karena pada fraksi tersebut tingkat rendemen minyak yang dihasilkan maksimum sedangkan kandungan Asam Lemak Bebas (free fatty acid) minimum.


B. Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi CPO
Untuk mencapai keberhasilan pengolahan di pabrik, prioritas utama adalah meningkatkan efisiensi ketel uap (boiler). Sebab jika volume dan tekanan uap yang berada di bawah normal akan mengakibatkan kerugian-kerugian, antaralain :
1.      Proses pengolahan tidak sempurna sehingga mengakibatkan pengutipan minyak dan inti rendah. Dengan katalain rendemen menurun.
2.      Tenaga listrik yang di hasilkan tidak dapat memenuhi kebutuhan pabrik sehingga disubtitusi  dengan pengoperasian genset dan biaya olah menjadi lebih tinggi, sebab :
a.       Ketel uap merupakan alat untuk memproduksi uap dari bahan baku dengan menggunakan bahan bakar fibre dan cangkang.
b.      Energy yang terkandung dalam uap (energi kinetis) di ubah menjadi tenaga mekanik yang menghasilkan tenaga listrik.
c.       Listrik dan uap bekas dari turbin uap di pergunakan pabrik sebagai sumber tenaga penggerak dan pemanasan.
d.      Keberhasilan kedua fungsi tersebut tergatung pada uap yang diproduksi oleh ketel uap.
Berdasarkan pengamatan secara umum bahwa semakin tinggi kapasitas akan semakin tinggi pula tingkat kesulitan dalam pengoperasiannya. Terutama pada malam hari stabilitas kerja untuk memperoleh kapasitas dan tekanan uap yang stabil menjadi agak kendor.
Hasil pembakaran bahan bakar yang sempurna dan terpenting adalah pemakaian bahan bakar dengan debit dan komposisi serabut (fiber) dan cangkang yang tepat. Kadar ketepatan tersebut di tentukan oleh operator dan operalatannya.
Untuk mengatasi stabilitas ketekunan operator pada malam hari di anjurkan pemakaian peralatan tamabahan.
1.      Dalam hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran cangkang yang dihancurkan dengan menggunakan alat penghancur cangkang.
2.      Tepung cangkang dimasukan ke silo dengan menggunakan alat pemindah pneumatik atau mekanik. Fibre yang keluar dari fiber cyclone di masukan ke dalam fibre silo.
3.      Untuk memperoleh komposisi yang akurat pengeluaran fibre dan abu cangkang dari silo dapat di atur dengan menggunakan alat pengatur mekanis.
4.      Dengan demikian komposisi fibre dan tepung cangkang dapat di atur lebih mudah dan akurat. Dengan cara demikian kapasitas dan tekanan uap dapat lebih stabil.
Proses pengolahan menjadi minyak dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan dapat pula dengan teknologi tinggi yang sudah biasa digunakan oleh perkebunan-perkebunan besar yang menghasilkan minyak sawit mentah (crude palm oil) dengan kualitas ekspor.
Menurut Hatley (1976) sebuah pabrik pengolahan kelapa sawit harus mempunyai bagian-bagian sebagai berikut: 1. Sterilisasi tandan sawit, 2. Pemberondolan (stripping) tandan, 3. Pengadukan dan peremasan buah sawit (digesting and pressing), 4. Ekstraksi, 5. Penjernihan minyak (clariffing the oil), 6. Pemisahan serabut dari biji sawit, 7. Pengeringan biji, 8. Grading biji sawit dan pemecahan biji sawit, 9. Pemisahan inti sawit dari tempurungnya, 10. Pengeringan inti sawit dn tahap pengarungannya (bagging).


Menurut Iyung Pahan(1993), tahapan pengolahan buah kelapa sawit adalah sebagai berikut:
1.      Penimbangan
Tandan Buah Segar (TBS) dari lapangan di angkut kepabrik dengan truk langsung di timbang di pabrik, kemudian buah dipindahkan ke loading ramp.
2.      Pembongkaran buah (loading Ramp)
Setelah truk buah ditimbang, kemudian dibongkar di loading ramp. Pada kesmpatan ini ± 5% dari jumlah truk buah di sortir untuk penilaian mutu. Selanjutnya buah dipindahkan ke keranjang lori rebusan yang berkapasitas ±2,5 ton.
3.      Perebusan ( Steriliser)
Lori-lori yang telah berisi TBS di masukan ke ketel rebusan dengan bantuan seperti loko, kapstander dan lier. TBS di panaskan dengan uap api yang bertekanan 2,8- 3 kg/cm².
Setiap ton TBS yang di olah memerlukan ± 0,5 ton uap air yang dihasilkan oleh ketel uap. Tekanan uap harus berada antara 2,8- 3 kg/cm² dan lama perebusan sekitar 90 menit. Selanjutnya gunakan system perebusan triple pick ( tiga puncak).
Pengawasan disini harus ketat karena jika tekanan uap tidak cukup maka presentase buah yang tidak lepas dari tandan akan tinggi. Isi satu ketel rebusan bermacam-macam ada yang 4 untuk pabrik kecil dan ada yang 10 untuk pabrik yang besar.


4.      Penebahan (stripping, threshing)
Setelah perebusan, lori rebusan di tarik keluar, kemudian diangkut keatas dengan hoisting crane. Dengan alat pengangkut ini lori yang berisi buah rebusan ini dibalik di atas mesin penebah (stripping) yang berfungsi melepaskan buah dari tandan. Buah yang lepas (brondolan) jatuh kebawah dan melalui conveyor serta Elevator di bawa menuju ketel adukan (digester).
5.      Pengadukan (Digestion)
Disini buah diaduk hingga daging buah terlepas dari biji.
6.      Pengempaan (Pressing)
Proses pengempaan ini bertujuan untuk mengeluarkan minyak dan cairan. Minyak yang keluar ditampung dengan talang dann dialirkan ke dalam Crude Oil Tank (tangki minyak kasar) melalui saringan getar.
7.      Pemurnian (Clarification)
Melalui stasiun terkahir ini minyak dimurnikan secara bertahap menghasilkan minyak mentah (CPO). Proses pemisahan minyak dengan air dan kotoran ini di lakukan dengan system pengendapan, sentrifugal dan penguapan, selanjutnya CPO disimpan dalam tangki timbun (CPO Storage).


BAB III
METODE PRAKTIK KERJA LAPANG
3.1  Waktu dan Tempat
Kegiatan PKL ini akan dilaksanakan di PT. Sawit SumberMas Sarana. Desa Sulung, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Waktu pelaksanaan yaitu mulai tanggal 16 Juli 2012 sampai dengan tanggal 16 Agustus 2012   dengan waktu kerja 8 jam per hari selama 6 hari kerja seminggu.
3.2  Teknik Pengumpulan Data
Metode yang di gunakan pada praktik kerja lapang adalah field research yaitu penelitian yang di lakukan dengan meninjau dan mengamati secara langsung pada tempat penelitian untuk mendapatkan data-data yang akurat. Beberapa teknik yang dapat di gunakan pada field research.
a.       Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara langung pada obyek penelitian yang merupakan sumber data.
b.      Interview, yaitu teknik mengumpulkan data yang dilakukan dengan melalui proses tabya jawab (wawancara) dengan pihak-pihak terkait langsung dengan objek penelitian.
c.       Sampling, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dngan cara melakukan pengambilan data arsip/formulir/catatan, serta referensi yang berkaitan dengan objek penelitian.


3.3  Diagram Alir Kerja Lapang
Minggu pertama:
1.      Orientasi, perkenalan mengenai perusahaan PT. Sawit SumberMas Sarana.
Minggu kedua:
2.      Pasca panen
a.       Jadwal panen blok/kalender panen
b.      Pemanenan
c.       Pengangkutan
3.      Melakukan wawancara mengenai pasca panen.
Minggu ketiga dan keempat:
4.      Pengolahan CPO
a.       Penimbangan
b.      Pembongkaran buah (loading Ramp)
c.       Perebusan ( Steriliser)
d.      Penebahan (stripping, threshing)
e.       Pengadukan (Digestion)
f.        Pengempaan (Pressing)
g.      Pemurnian (Clarification)
5.      Melakukan wawancara mengenai proses pengolahan.





DAFTAR PUSTAKA
Panca wardanu, Adha.2009.Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit.
Pahan. I. 2008. Kelapa sawit: manajemen agribisnis dari hulu hingga hilir. Penebar swadaya. Jakarta. 411 hal.

3 komentar:

  1. anak untama kah nih, kenalin bro, gue heri dari fakultas teknik, ijin comot lah :)

    BalasHapus
  2. terimakasih bang hendri proposalnya sangat membantu saya bang

    BalasHapus